Hermeneutika pertama-tama berarti seni menginterpretasi. Awal mulanya, hermeneutika berkaitan dengan eksegese atau tafsir Kitab Suci. Tetapi mata kuliah ini bukan dengan Kitab Suci atau filsafat tentang seni. Hermeneutika telah diangkat sebagai cabang dari filsafat. Sebagai cabang dari ilmu filsafat, mata kuliah ini berkaitan dengan filsafat interpretasi yang banyak dikembangkan oleh filsafat abad 20. Sebagai filsafat interpretasi, hermeneutika diangkat sebagai metode berfilsafat abad 20. Lewat metode interpretasi, filsafat telah “memproklamirkan” pluralitas dari rasionalitas dan mengetengahkan gambaran dunia (world view) yang plural. Hermeneutika dengan demikian juga mau menunjukkan ketidakmungkinan “bahasa ideal” dari suatu tolok ukur yang universal, “tepat”, dan “objektif” untuk menggambarkan realitas atau gambaran dunia (world view). Dengan kata lain, “misi” modernitas yang mau membangun sistem-sistem rasional yang tunggal, universal, dan cenderung otoriter, telah dinyatakan gagal.

Melalui mata kuliah hermeneutika ini, mahasiswa akan belajar untuk mengenali, memahami, dan dapat menjelaskan dengan kata-kata sendiri tentang aneka perspektif tentang gambaran-dunia (world-view) yang diketengahkan oleh para filsuf yang dikategorikan sebagai para filsuf hermeneutis. Setelah perkuliahan ini, mahasiswa diharapkan akan dapat menjelaskan dan menguraikan dengan kata-kata sendiri tentang hakekat, aktualitas, relevansi, dan perkembangan pemikiran hermeneutika mulai dari Schleiermacher, Wilhelm Dilthey, Hans-Georg Gadamer, Jurgen Habermas, Paul Ricoeur, dan Jacques Derrida.

Di akhir perkuliahan, mahasiswa akan mampu “membangun” gambaran dunia (world view) yang mendasari caranya memandang, menilai, dan memahami “lapisan-lapisan” realitas dengan cara membuat sintesa dari pandangan-pandangan para filsuf yang telah dipelajari, dan mengaplikasikannya pada realitas yang dikajinya lewat pengamatan dan pemberitaan media massa. Mahasiswa akan menjadi lebih kritis dan reflektif dalam menggali, menelaah, mengkaji, dan mengambil sikap terhadap “lapisan-lapisan realitas” di jaman ini, yang cenderung telah terkooptasi oleh hegemoni kekuasaan, semangat penumpukan kapital, dan ideologi yang otoriter.

Pada bagian pengantar, mata kuliah hermeneutika mempelajari tentang seni menginterpretasi sebagai bagian dari metode berfilsafat yang dikembangkan dalam filsafat abad 20 (postmodern). Akan disajikan asal-muasal hermeneutika sebagai metode berfilsafat sejak dari Abad Yunani Kuno, beberapa definisi hermeneutika, dan aneka aliran pemikiran dan pendapat dalam hermeneutika.

Sebagai metode berfilsafat, hermeneutika juga telah “memproklamirkan” pluralitas dari rasionalitas dan mengetengahkan gambaran dunia (world view) yang plural. Hermeneutika dengan demikian juga mau menunjukkan ketidakmungkinan “bahasa ideal” dari suatu tolok ukur yang universal, “tepat”, dan “objektif” untuk menggambarkan realitas atau gambaran dunia (world view). Dengan kata lain, “misi” modernitas yang mau membangun sistem-sistem rasional yang tunggal, universal, dan cenderung otoriter, telah dinyatakan gagal.

Oleh karena itu, matakuliah Hermeneutika juga mengajarkan mahasiswa tentang aneka perspektif para filsuf dalam memandang, menilai, dan memahami realitas sebagai gambaran dunia (world-view) yang “berlapis-lapis” dan dengan sendirinya membutuhkan interpretasi filosofis. Secara lebih mendetail, matakuliah Hermeneutika membahas tentang definisi, hakekat, aktualitas, relevansi, dan perkembangan pemikiran hermeneutika mulai dari Shleiermacher, Wilhelm Dilthey, Hans-Georg Gadamer, Jurgen Habermas, Paul Ricoeur, dan Jacques Derrida.